Pernahkah Anda berada di situasi ini: Pasangan Anda selalu tampil trendi dengan gadget keluaran terbaru, hobi nongkrong di kafe hits setiap akhir pekan, dan sering memberi hadiah mahal. Romantis? Tentu saja. Namun, di balik kemewahan itu, pernahkah Anda bertanya dari mana sumber dananya? Apakah dari gaji, tabungan, atau justru limit Paylater yang sudah lampu merah?
Banyak pasangan terjebak dalam ilusi “romantisme buta finansial”. Mereka takut membahas uang karena dianggap tidak etis atau takut merusak suasana. Padahal, data menunjukkan realitas yang pahit: masalah keuangan konsisten menjadi salah satu dari tiga penyebab utama perceraian di Indonesia.
Membahas uang bukan berarti Anda materialistis. Justru, ini adalah bentuk tertinggi dari rasa tanggung jawab terhadap masa depan hubungan Anda.
Sebelum menilai pasangan, mari kita lihat lanskap keuangan anak muda saat ini. Berdasarkan survei perbankan nasional dan riset perilaku konsumen (seperti Indonesia Millennial Report), ada tren menarik tentang pekerja baru (first jobber) di Indonesia:
Budaya “Self-Reward” yang Kebablasan: Banyak pekerja muda mengalokasikan hingga 30-40% gajinya untuk lifestyle demi validasi sosial, seringkali dengan dalih “mengapresiasi diri sendiri” setelah lelah bekerja.
Ilusi Keuangan Pesta Pernikahan: Data pencarian Google Trends menunjukkan lonjakan kata kunci “pinjaman KTA untuk nikah” beriringan dengan “dekorasi nikah estetik”. Ini mengindikasikan adanya kesenjangan besar: keinginan menggelar pesta viral ala media sosial seringkali tidak didukung oleh fondasi tabungan yang kuat.
Minim Dana Darurat: Mayoritas pekerja usia 22-28 tahun di kota besar hidup dari gaji ke gaji (paycheck to paycheck), dengan tabungan yang hanya mampu bertahan kurang dari sebulan jika kehilangan pekerjaan.
Kondisi makro ini sering terbawa ke dalam hubungan asmara. Pasangan yang terlihat “mapan” secara visual, belum tentu sehat secara finansial.
“Doing well with money has a little to do with how smart you are and a lot to do with how you behave.” — Morgan Housel (Penulis The Psychology of Money)
Kutipan Housel di atas adalah pengingat keras. Gelar pasangan Anda boleh tinggi, gajinya boleh besar, tapi jika perilakunya terhadap uang buruk, itu adalah bom waktu bagi pernikahan Anda.
Red flags atau tanda bahaya keuangan tidak selalu berupa tumpukan surat tagihan. Seringkali, tanda-tanda ini muncul dalam kebiasaan kecil sehari-hari saat kalian berkencan.
Perhatikan rasio pengeluaran dibanding pemasukan. Jika pasangan bergaji UMR namun memaksa mencicil mobil mewah atau membeli barang branded dengan skema cicilan tenor panjang hanya demi gengsi, ini adalah sinyal bahaya. Mereka memprioritaskan “kelihatannya” daripada “kenyataannya”.
Setiap kali Anda menyinggung soal tabungan masa depan atau harga rumah, dia mengalihkan pembicaraan atau bahkan marah dengan dalih “Jalani saja dulu”. Ketidakterbukaan ini berbahaya. Transparansi adalah mata uang termahal dalam pernikahan. Menyembunyikan kondisi finansial saat pacaran seringkali berujung pada kejutan utang setelah menikah.
Wajar jika sesekali pasangan butuh bantuan. Namun, perhatikan pola yang berulang. Apakah dia sering “lupa bawa dompet”? Apakah dia selalu meminjam uang untuk kebutuhan konsumtif dan “lupa” mengembalikan? Atau yang lebih parah, apakah dia masih sepenuhnya bergantung pada uang saku orang tua meski sudah bekerja? Ini menandakan ketidakdewasaan mental dalam mengelola tanggung jawab.
Perhatikan bagaimana pasangan bereaksi saat sedang stres atau sedih. Apakah pelariannya adalah belanja impulsif? Menggunakan uang sebagai pelampiasan emosi adalah kebiasaan yang sangat sulit diubah dan bisa menguras tabungan keluarga nantinya.
Jika Anda merasa pasangan memiliki potensi namun hanya perlu diarahkan, atau jika Anda sudah yakin dia “the one”, langkah selanjutnya adalah menyamakan frekuensi. Jangan menunggu hingga undangan disebar. Lakukan diskusi ini sekarang.
Duduklah berdua di situasi santai. Buka-bukaan soal tiga hal: Aset, Utang, dan Tanggungan. Jujurlah mengenai berapa utang yang tersisa (termasuk Paylater dan kartu kredit). Diskusikan juga apakah kalian adalah Sandwich Generation yang harus menanggung biaya hidup orang tua atau adik. Data ini vital untuk merancang budget rumah tangga.
Ingat data Google Trends tadi? Jangan jadi statistik pasangan yang berutang demi pesta. Sepakati batasan budget pernikahan. Jika tabungan kalian hanya cukup untuk intimate wedding 50 orang, jangan memaksakan pesta di ballroom hotel demi gengsi orang tua. Pesta hanya satu hari, pernikahan adalah selamanya.
Diskusikan skenario masa depan:
Apakah setelah menikah istri tetap bekerja?
Siapa yang menjadi “Menteri Keuangan” (pengelola pos harian)?
Apa tujuan besar 5 tahun ke depan? (Beli rumah, lanjut kuliah, atau investasi dana pendidikan anak?)
Sebelum menikah, cobalah menabung bersama untuk tujuan kecil, misalnya liburan atau membeli barang elektronik. Lihat konsistensinya dalam menyisihkan uang. Ini adalah simulasi paling akurat tentang bagaimana dia akan bersikap saat berumah tangga nanti.
Mencari pasangan yang sempurna secara finansial mungkin mustahil. Namun, mencari pasangan yang mau belajar, terbuka, dan memiliki visi yang sama adalah hal yang wajib diperjuangkan.
Pernikahan bukan hanya penyatuan dua hati, tapi juga penyatuan dua kebiasaan finansial. Pastikan Anda tidak hanya jatuh cinta pada orangnya, tapi juga siap menerima (dan memperbaiki) cara dia memperlakukan dompetnya.


